“PENDAKWAH”
Oleh
Luthfi Abdillah
(B94219083)
M. Romadlon Aji (B94219086)
M. Fahmi Ashari (B94219084)
Kelas D3
Dosen Pengampu
Prof. Dr. Moh.
Ali Aziz, M. Ag
Asisten Dosen 1
Ati’ Nursyafa’ah
M. Kom I
Asisten Dosen 2
Baiti Rahmawati
S. Sos
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN AMPEL SURABAYA
2019
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kepada Allah SWT.yang telah memberi nikmat, kesempatan untuk mengerjakan
tugas ini, solawat dan salam kami panjatkan kepada Nabi Muhammad SAW. Terima kasih kepada Prof. Dr. H. Moh.Ali Aziz, M.Ag dan ibu Ati’
Nursyafa’ah, M. Kom.I serta ibu Baiti Rahmawati, S.Sos yang telah memberikan
kepercayaan kepada saya untuk mengerjakan tugas ini.
Saya
berharap buku ini bisa memberikan kontribusi yang berarti bagi perkembangan
dakwah islam dimasa mendatang.
Surabaya, 23Agustus 2019
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ................................... ii
Daftar Isi............................................. 1
Bab I Pembahasan.............................. 2
A. Kualifikasi Pendakwah................ 2
B. Pendakwah Strategis................... 7
C. Kemuliaan Pendakwah................. 9
D. Problematika Seputar Pendakwah..13
BAB
II Penutup......................................20
DAFTAR
PUSTAKA............................ 21
BAB I
PEMBAHASAN
A. Kualifikasi
Pendakwah
Pendakwah
adalah pelaku dakwah. Ia disebut
juga sebagai Da’i. Sebagaimana dakwah bisa dilakukan dengan lisan, tulisan, dan
perbuatan maka pendakwah juga demikian, seorang penulis tentang keislaman,
penceramah islam, guru agama islam, guru ngaji dan lembaga keislaman lainnya
adalah termasuk sebagai pendakwah.
Dakwah bisa dilalukan oleh individu maupun kelompok,
dakwah perorangan dilakukan oleh seseorang dan dakwah kelompok oleh sebuah
lembaga atau organisasi. Dakwah merupakan
kewajiban bagi seluruh ummat muslim sehingga setiap orang yang melakukan
dakwah dapat disebut sebagai pendakwah, namun pendakwah juga dibagi dua menurut
keahlian dan keilmuannya, yakni secara umum dan secara khusus. Secara umum
adalah setiap muslim yang sudah dewasa dan berdakwah sesuai dengan
kemampuannya. Secara khusus adalah muslim yang telah ahli atau fokus
mempelajari tentang agama islam, yaitu ulama, ustadz, mubalig, dan lain
sebagainya.[1]
Saat ini jalan dakwah sangat rumit, seorang pendakwah
harus melewati berbagai rintangan dan cobaan, oleh sebab itu, seorang pendakwah
harus mempunyai persiapan sebelum berdakwah. Banyak da’i yang tidak kuat dengan
rintangan dan cobaan dalam berdakwah yang akhirnya menepi dan menyerah dari
jalan dakwah. Zaman sudah semakin maju,
ilmu pengetahun dan teknologi telah berkembang sangat pesat, oleh karena itu
dakwah bisa dibilang bertambah sulit, sebagai pendakwah di era yang sekarang
ini harus benar-benar mempunyai kompetensi yang mumpuni dalam dirinya.
Menurut Abdul
Munir Mulkhan, kompetensi dai dapat dibedakan menjadi dua, yaitu kompetensi
substantif dan kompetensi metodologis. Kompetensi substantif berupa kondisi dai
atau mubaligh dalam dimensi idealnya. Secara garis besar ada tujuh kompetensi
substantif atau kompetensi dasar bagi seorang dai atau mubaligh:
1. Pemahaman agama
Islam secara cukup, tepat dan benar: tugas seorang dai adalah menyebarkan agama
Islam ke tengah masyarakat. Semakin luas pengetahuan agama seorang mubaligh,
semakin banyak ia mampu memberikan ilmu kapada masyarakat. Di samping itu,
pemahaman Islam harus tepat dan benar. Artinya, berbagai bid’ah, kufrat, dan
tahayul yang sering kali ditempelkan oleh Islam harus dihilangkan sama sekali.
2. Pemahaman
hakikat gerakan dakwah: gerakan dakwah adalah amar ma’ruf nahi munkar dalam menampilkan
ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat senantiasa dikembalikan pada sumber
pokok, yaitu al-Qur’an dan al-Hadis. Gerakan dakwah merupakan suatu alat, bukan
tujuan.Perjuangan untuk menegakan amal shalih di zaman modern tidak mungkin
dilakukan kecuali dengan organisasi yang rapi dan modern.
3. Memiliki akhlak
al karimah: setiap dai harus memiliki akhlak yang mulia karena mereka akan
dijadikan panutan oleh masyarakat. la akan selalu diikuti oleh umat. Oleh
karena itu, akhlak al karimahharus menjadi pakaian sehari-hari para dai.
4. Mengetahui
perkembangan ilmu pengetahuan umum yang relatif luas: agar para dai mampu
menyuguhkan ajaranajaran Islam dengan lebih baik, ia harus memiliki pengetahuan
umum yang relatif luas. Dalam kenyatannya, para dai yang efektif adalah mereka
yang mempunyai pengetahuan yang cukup luas.
5. Mencintai
audiens dengan tulus: pada dasarnya, para dai adalah pendidik umat. Oleh karena
itu, sifat-sifat pendidik yang baik seperti tekun, tulus, sabar, dan pemaaf
juga harus dimiliki oleh para juru dakwah atau dai.
6. Mengenal kondisi
lingkungan dengan baik: menyampaikan pesan pesan Islam tidak akan berhasil
dengan baik tanpa memahami lingkungan atau ekologi sosial-budaya dan
sosio-politik yang ada. Tabligh Islam tidak dapat dilepaskan dari setting
kemasyarakatan yang ada. Di sinilah dai harus jeli dan cerdas memahami kondisi
umat ijabah dan umat dakwah yang dihadapi supaya dapat menyodorkan pesan-pesan
Islam tepat sesuai dengan kebutuhan mereka.
7. Memiliki rasa
ikhlas liwajhillah: seorang dai harus memiliki semboyan, “Kami bertabligh
kepadamu semata-mata hanya karena Allah, kami tidak meminta imbalan darimu dan
tidak pula kami mengharap pujian”. Semboyan ini harus perlu menjadi niat dalam
melaksanakan dakwah Islam. Jika keikhlasan telah menjadi dasar dalam berdakwah,
maka rintangan, hambatan, dan penghalang apapun yang dihadapi insya Allah tidak
akan menjadi hal yang memberatkan dan tidak akan membuat putus asa baginya.
Kompetensi-kompetensi
substantif di atas adalah sesuatu yang wajib adanya bagi setiap dai. Kompetensi
tersebut adalah kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seorang dai. Selain
itu, seorang dai juga harus memiliki kompetensi metodologis, yaitu sejumlah
kemampuan yang harus dimilki oleh seorang dai yang berkaitan dengan masalah
perencanaan dan metodologi dakwah. Dengan ungkapan lain, kompetensi metodologis
adalah kemampuan yang ada dalam diri dai sehingga ia mampu membuat perencanaan
dakwah yang akan dilakukan dengan baik, sekaligus mampu melaksanakan perencanaan
tersebut.Kompetensi metodologis berhubungan dengan kemampuan dai untuk
merencanakan dakwah karena aktivitas dakwah pada dasarnya mempunyai tujuan
untuk mempengaruhi dan merubah pola pikir, perilaku, dan tindakan manusia yang
kurang baik menjadi lebih baik. Untuk megubah pola pikir dan perilaku seseorang
tidaklah mudah sehingga dakwah harus direncanakan secara matang agar dakwah
dapat berjalan efektif dan efisien.[2]
Menurut
Al-Bayanun dalam bukunya Fikih Dakwah mengatakan
bahwa seorang pendahwah harus memiliki perkara-perkara penunjang dakwah yang
dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.
Iman kepada perkara
yang ia serukan, karena sesungguhnya keimanan pendakwah terhadap perkara yang
ia serukan, pemahamannya terhadap kepentingan, serta kebutuhan masyarakat.
2.
Mempunyai hubungan
yang erat dengan Allah, karena para pendakwah merupakan pihak yang paling
membutuhkan pertolongan dan penyelarasan dari Allah.
3.
Ilmu dan pemahaman
tentang apa yang ia bawakan, karena hanya orang-orang yang berilmu saja yang
mampu mengemban dakwah ini dengan sebenarnya.
4.
Mengamalkan ilmunya
serta konsisten dalam tingkah lakunya, karena tidak akan ada kebaikan sama
sekali manakala ilmu tidak diiringi dengan perbuatan.
5.
Pemahaman yang
komprehensif, yaitu pemahaman para pendakwah terhadap hal-hal yang berkaitan
dengan permasalahan dakwah, sama saja berkaitan dengan:
a.
Realitas dan
tuntutan-tuntutan dakwah di eranya.
b.
Kondisi sosial
kemasyarakatan objek dakwahnya.
c.
Ataupun perkara
yang berkaitan dengan pendakwah itu sendiri dan yang terkait dengan waktu dan
kondisi
6.
Bijaksana dalam
bersikap, yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Sudah seharusnya pendakwah
itu arif dalam metode-metode dakwahnya, memilih metode yang baik dan sesuai
dengan objek dakwahnya serta menempatkan metode yang sesuai dengan kondisinya.
7.
Bertingkah laku
dengan akhlak yang baik. Merupakan kewajiban bagi para pendakwah untuk memaksa
dirinya berhias dengan akhlak yang mulia dan menghindari dari akhlak-akhlak
yang buruk.
8.
Berprasangka baik
kepada segenap muslimin. Seorang pendakwah hendaklah berbaik sangka kepada
muslimin secara keseluruhan serta memberikan keputusan pada mereka dengan
bukti-bukti yang jelas.
9.
Menutupi aib orang
lain.
10.
Bersosialisasi
dengan masyarakat manakala hal itu diperlukan, dan menyingkir dari masyarakat
manakala hal itu dibutuhkan.
11.
Termasuk sifat para
pendakwah ialah menempatkan seseorang
sesuai dengan kemampuannya.
12.
Termasuk sifat para
aktivis dakwah ialah saling tolong menolong dengan pihak lain dalam pelaksanaan
dakwah, bermusyawarah dan saling menasihati antar sesama aktivis dakwah.
13.
Sifat aktivis
dakwah yang lainnya ialah selalu mengerti bahwa dia dituntut untuk menjadi
pribadi sempurna yang diteladani tanpa cela.[3]
A.
Pendakwah Strategis
Tentu kita
sebagai makhluk yang selalu berinteraksi dengan manusia yang lain apalagi kita
sebagai pendakwah, pastinya kita mempunyai hal yang harus dimiliki oleh kita
yaitu tentang strategi. Harold D. Laswell mengatakan cara yang terbaik untuk
menerangkan kegiatan komunikasi adalah menjawab elemen pertanyaan sebagai
berikut: who (siapa komunikatornya), says what (pesan apa yang dikatanya), in which channel (Media apa yang
digunakan), to whom (siapakah
komunikasinya), dan with what effect (efek
apa yang diharapkan).[4]
Nabi Muhammad Saw, sebagai imam para
Da’i, telah menerapkan strategi dakwah secara bijak, sehingga melalui beliau,
Allah memberi manfaat kepada hambanya dan menyelematkan mereka dari syirik
menuju tauhid.Siasat beliau tersebut bermanfaat dalam menyukseskan dakwahnya,
membangun negaranya, menguatkan kekuasaanya, dan meninggikan
kekuasaanya.Sepanjang sejarah politik umat manusia tidak pernah ada seseorang
pun pembaru yang mempunyai pengaruh besar seperti Nabi Muhammad Saw.Terkumpul
adanya jiwa seorang pemimpin, pendidik yang bijak, kecerdasan akal,
orisinalitas pendapat, semangat yang kuat serta kejujuran.Semua itu telah
terbukti pada diri beliau.[5]
Komunikasi interpersonal adalah
komunikasi antar komunikator dengan seseorang komunikan, bersifat dialogis
berupa percakapan.[6]Komunikasi
interpersonal mempunyai ciri khusus yaitu sifat komunikasinya dua arah, adanya
timbal balik antara komunikator dengan komunikan.Komunikasi jenis ini dianggap
lebih efektif dalam hal upaya mengubah sikap, pendapat atau perilaku seseorang.
Menurut Mortensen (1972)[7].
Dalam proses komunikasi dakwah,
seoran pendakwah wajib mempertimbangkan patut tidaknya sebuah pesan yang
disampaikan. Tidak semua pesan yang disampaikan bisa beradaptasi, memberikan
solusi, atau bahkan bisa diterima dengan senang hati, oleh sebab itu,
diperlukan pertimbangan lain yang bersifat humoris. Jangan sampai pesan dakwah
yang disampaikan justru akan menimbulkan kontra produktif dengan tujuan dakwah
yang seharusnya dicapai. Dengan demikian diharapkan bahwa dakwah trsebut mampu
bersifat adaptif, solutif, loyalis, atau produktif. Artinya bahwa tersebut bisa
beradaptasi dengan lingkungan, bisa menerima pesan dakwah dengan kesadaran
mereka sendiri melalui pesan yang disampaikan bahasa yang menyenangka hati atau
humoris[8]
B.
Kemuliaan Pendakwah
Dakwah itu merupakan kegiatan
yang mulia karena dakwah itu hanya Allah SWT berikan kepada Nabi, Rasul, dan
Umat terdahulu saja. Namun khusus umat Nabi Muhammad Saw, itu special, kita
yang bukan nabi bahkan Rasul, ternyata juga menerima tongkat estafet dakwah
nabi Muhammad Saw, Karena kita adalah umat terbaik dan menjadi perantara
manusia lain untuk lebih mengenal Allah.[9]
Rasullullah saw berdakwah dengan
tujuan adalah agar masyarakat Arab meninggalkan masa kejahilianya di bidang
agama, moral dan hukum, sehingga meyakini kebenaran kerasulan nabi Muhammad saw
dan ajaran islam yang disampaikanya, kemudian mengamalkanya dalam kehidupan
sehari- hari. Pada masa dakwah secara sembunyi – sembunyi ini, Rasullullah saw
menyeru untuk masuk islam orang orang yang berada di lingkungan rumah tangganya
sendiri dan kerabat serta sahabat dekatnya. Mengenai orang- orang yang telah
memenuhi seruan dakwah Rasullullah saw tersebut adalah, Khadijah binti
Khuwailid, Ali bin Abu Thalib, Zaid bin Haritsah, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan
Ummu Aiman.
Kemudian Rasullullah dakwah secara
terang- terangan ini dimulai sejak tahun ke – 4 dari kenabian yakni setelah
turunya wahyu yang berisi perintah Allah SWT agar dakwah itu dilaksanakan
secara terang-terangan. Al Quran Surah 26: 214 – 216.
وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأقْرَبِينَ (٢١٤) وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ
اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (٢١٥) فَإِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ
مِمَّا تَعْمَلُونَ (٢١٦
214. Dan berilah peringatan kepada kerabat kerabatmu yang
terdekat, 215. Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu,
Yaitu orang-orang yang beriman. 216. Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah:
"Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu
kerjakan".[10]
Di
era sekarang tugas kenabian nabi Muhammad saw dilanjutkan perjuanganya oleh
para ulama, kyai, mubalig untuk memberikan dan menyebarkan keilmuanya tentang
agama islam dan menjadi tokoh masyarakat di sekitar kita melalui majelis –
majelis ilmu yang diadakan. Majelis ilmu ini sangat bermanfaat bagi umat muslim
untuk memperdalam keilmuan islamnya. Namun banyak orang – orang juga menganggap
majelis ilmu tidak penting karena membuang – buang waktu dalam mendengarkan
majelis ilmu tersebut.Rasullullah saw bersabda:” apabila kalian melewati taman-
taman surga ambilah selalu hasilnya.” Para sahabat bertanya: “ apakah taman-
taman surga itu, ya Rasulullah ?” Beliau menjawab : “ Majelis-majelis ilmu.”
(HR. Tabrani).Dalam Hadist Riwayat Tabrani Rasulullah pun bersabda bahwa
majelis ilmu itu penting bagi umat muslim karena akan memperdalam ilmu
keislaman kita[11].
Mengikuti
majelis ilmu pun tidak hanya sekedar mengikuti saja namun juga harus menyerap
atau memahami ilmu yang dibagikan oleh pemateri tersebut.Dalam mengikuti
majelis ilmu sendiri kita juga harus mengajak keluarga dan sahabat kita untuk
mengikuti majelis ilmu tersebut. Dengan mengikuti majelis ilmu tersebut akan
membukakan hati kita untuk berbuat lebih baik lagi kedepanya setelah mengikuti
majelis ilmu tersebut seperti dalam kisah Lukmanul hakim yang berkata kepada
anaknya ”wahai anak – anaku, hendaknya
engkau menyertai para ulama dan dengarkan
ucapan ahli hikmah, karena sesungguhnya Allah menghidupkan hati yang
mati dengan cahaya hikmah sebagaimana Dia menghidupkan tanah yang mati dengan
air dan hujan” ( Targhib )[12].
Ulama
dan kyai serta mubalig adalah penerus perjuangan nabi Muhammad Saw dan khilfah
di muka bumi ini untuk memberikan pengetahuan Amar ma’ruf nahi mungkar kepada
masyarakat mengajak untuk berbuat
kebaikan dan menjauhi kejahatan.
Sebagai
khalifah di bumi ini untuk memberikan pencerahan atau memberikan ilmu keislaman
yang baik kepada masyarakat seorang pendakwah harus mempunyai kriteria yang dan
keilmuan yang cukup mumpuni agar ilmu
tersebut dapat dipahami oleh orang yang mendengarkan ceramah tersebut.Tidak
hanya ilmu yang diperhatikan tetapi juga harus mempunyai perilaku yang dapat
dijadikan contoh oleh masyarakat dan juga mampu berguna bagi masyarakat
tersebut tentunya.
“Al-
Habib ‘Abdullah bin ‘ Alawi al-Haddad (t.t: 15-16 ) meguraikan tipologi
pendakwah ditinjau dari ilmu dan amal atau antara fatwa dan perilakunya”. Berikut Kriterianya:
1. Pendakwah memiliki menguasai ilmu agama,
perilakunya sesuai dengan keilmuanya, dan ia ikhlas mengajarkan dan mengajak
orang lain mengikuti ilmunya.
2. Pendakwah
yang menguasai ilmu agama, perilakunya sesuai dengan ilmunya, tetapi ia enggan
untuk mengajarkan ilmunya kepada masyarakat luas. Jika keenggananya disebabkan
oleh sifat kikirnya atau sengaja menyembunyikanya, maka ia berdosa. Namun jika
meninggalkan dakwah tersebut karena kesibukan menjalankan kewajiban agama
lainya, sementara masih ada ulama lain yang berdakwah maka ia tidak berdosa.
3. Pendakwah yang memiliki kedalaman ilmu
agama, bersemangat mengajarkan ilmunya kepada masyarakat luas, tetapi
perilakunya tidak sesuai dengan ilmunya. Penyimpangan dari syariat islam ini
adakalanya karena malas dan berat melakukanya atau selalu menunda- nunda.
Pendakwah jenis ini ingin cepat terkenal, menganggap dakwah lebih penting
daripada keteladanan. Ia diibaratkan memberi pakaian kepada orang lain,
sedangkan dirinya dalam keadaan telanjang.
4. Pendakwah yang memiliki kedalaman ilmu
agama, namun ia tidak menjalankan ilmu yang dimiliki dan juga enggan
mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Keinginan duniawi lebih menguasai
dirinya seperti, harta, takhta, popularitas, dan sebgaianya
5. Pendakwah yang memiliki kedalaman ilmu
agama, namun ia tidak menjalankan ilmu yang dimiliki dan juga enggan
mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Sebaliknya, ia menyebarkan kesesatan dan
mencampur aduk antara yang benar (haq)
dan yang salah (bathil). Kesesatan
kemudian diikuti oleh banyak orang bahkan lintas generasi di belakangnya. Ini
yang ditegakan dalam Al – Quran surah al
– Baqarah (2) ayat 79.[13]
فَوَيْلٌ
لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ
عِندِ اللّهِ لِيَشْتَرُواْ بِهِ ثَمَناً قَلِيلاً فَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا
كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا يَكْسِبُونَ ﴿٧٩﴾
Seorang
Pendakwah mempunyai ciri khas masing – masing untuk menyampaikan dakwahnya
kepada masyarakat melalui majelis ilmu yang diadakanya. Dan banyak pemahaman
yang berbeda setiap ulama,kyai atau mubalig tapi hal itu jangan sampai membuat
perpecahan antara umat islam di muka bumi ini. Namun dalam dakwah kolektif,
masing – masing pendakwah saling melengkapi satu sama lain.
Orang
yang mengajarkan kebaikan seperti pendakwah, ulama dan mubalig adalah orang
yang bersekutu dengan kebaikan dan juga orang yang belajar dalam hal kebaikan
maka juga akan mendapat ganjaran yang sama. Rasullullah Saw. Bersabda, “ Orang
yang mengajar dan diajar keduanya bersekutu dalam kebaikan, tidak ada lagi kebaikan
pada sekalian manusia selain mereka.” ( HR. Ibnu Majah).[14]
D. Problematika Seputar Dakwah
Setiap manusia yang hidup pastilah
mendapatkan cobaan, tidak lain seorang pendakwah, sering kali terjadi,
pendakwah sukses atau kondang bukannlah mereka yang pintar dalam suatu ilmu,
namun mereka selalu mengamalkan ilmu yang didapatnya kepada orang lain .meski
hidup tidak selalu mulus, maka tanpa sikap pantang menyerah, kita akan
kehilangan momentum puncak keberhasilan kita terutama dalam berdakwah. Thomas
Alva Edision mengatakan, banyak orangyang gagal dalam hidup adalah orang –
orang yang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat
mereka menyerah.[15]
Secara bahasa problem berasal dari bahasa inggris
yang berarti masalah. Sedangkan dakwah berasal dari bahasa arab yang berarti
ajakan. Secara istilah dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang dihadapi
seseorang ketika mengajak dalam hal kebaikan, pada hakikatnya merupakan hal
yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan itu sendiri karena telah terwujud
sebagai hasil dari kebudayaan manusia itu sendiri, dan akibat dari interaksi
sesama manusia.
Dalam berdakwah
pasti ada rintangan atau masalah yang harus pendakwah hadapi, diantaranya
yakni:
1. Pendakwah
Perempuan
Pada zaman
sekarang ini banyak pendakwah perempuan yang terkenal di Indonesia contoh saja
Mamah Dedeh.Beliau ini adalah sosok perempuan yang disegani oleh perempuan di
Indonesia karena ilmunya.Beliau sering mengisi acara keislaman seperti di
Indosiar, Trans 7 dan masih banyak lagi.Lalu hal ini banyak diperdebatkan oleh
kalangan ulama. Antara lain apakah boleh atau tidaknya perempuan berdakwah
karena berkomunikasi dengan lawan jenis ataupun suaranya itu aurat. Sebenarnya dalam hadits riwayat Bukhori Muslim dari
Sa’id Al. Khudri yang dikutip dari awal buku ini bahwa diantara peserta
pengajian adalah perempuan. Keterangan tersebut bahwa dapat disimpulkan kalau
perempuan diperbolehkan untuk pengajian agama, berdakwah, menuntut ilmu dll.[16]
2.
Berdakwah Kepada Umat Non Islam
Hal tersebut
juga dijadikan pembahasan di kajian islam. Namun kita lihat dari sudut pandang
bahwa agama islam adalah agama yang
rohmatan lil alamin. Jadi yang selama ini diperselisihkan diantara umat islam.
Tercantum dalam al. quran surat al.imron ayat 110, dalam terjemahan Indonesia
yaitu
Kamu adalah umat yang terbaik
yang dilahirkan unutk manusia , menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah yang
mungkar, dan beriman kepada Allah . Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu
lebih baik bagi mereka diantara mereka yang beriman, dan ebanyakan mereka
adalah orang orang yang fasik(QS. Al.
Imron[3]:100.[17]
3.
Honor Bagi Pendakwah
Sekarang di Indonesia banyak memanfaatkan dakwah
sebagai profesi, padahal dakwah itu merupakan syiar agama kepada orang orang
dengan tujuan mengajak kebaikan dan menjauhi kemungkaran.Namun faktanya masih
banyak ditemui dakwah itu sebagai media pencari pekerjaan. Sebenarnya dalam
islam bahwa al.quran telah menyebutkan bahwa pendakwah tidak diperkenankan
meminta upah dari dakwahnya. Sedangkan hukum bagi pendakwah yang meminta dan
menerima imbalan karena memberikan jasa dakwah adalah makruh. Jika ia
melakukannya maka ia tidak dikenakan dosa, tetapi menjatuhkan martabatnya.
Secara etika, meminta imbalan dari kegiatan dakwah lebih buruk daripada sekedar
menerimanya.Meminta berarti pendakwah menentukan honoriumnya baik secara
sepihakl maupun negosiasi.Adapun menerima imbalan semata, tidak meminta minta,
berarti pendakwah bersikap pasif, tidak meminta minta merupakan dari penentuan
mitra dakwah.Sementara pendakwah berhak menerima atau menolaknya.[18]
Jadi pendakwah yang menerima honor ataupun tidak itu tergantung pada niat sang
pendakwah.
4.
Pengkaderan
merupakan
hal serius yang dihadapi bangsa Indonesia sekarang ini. Yaitu pada
pemudanya.Karena mereka merupakan aset besar bangsa dalam menyongsong
globalisasi. Sekarang ini tidak dapat dipungkiri lagi bahwa banyak pemuda
Indonesia yang terjerumus ke jalan yang suram seperti minum minuman keras,
narkoba , pergaulan bebas dan masih banyak lagi. Dengan membekali pemuda dengan
aqidah yang kuat, maka mereka mempunyai benteng yang tangguh dalam era globalisasi
dan informasi sekarang ini, insyaallah masa depan dakwah kita akan tetap ceria.
Dari semua masalah
pasti ada sebuah faktor yang memicu adanya masalah tersebut dari jalan dakwah,
dibawah ini adalah faktor-faktor penyebab problematika dakwah:
1.
Perbedaan Kepentingan
Kita ketahui bahwa setiap orang yang ada di muka
bumi ini pasti mempunyai tujuan yang berbeda beda, yang ditimbulkan dari
tingkah laku individu. Antara yang menyampaikan pesan dan yang menerima pesan
belum tentu saling memahami dan mengerti apa yang telah diucapkan oleh si
pendakwah. Dengan berpegang pada prinsip bahwa tingkah laku individu merupakan
cara atau alat dalam memenuhi kepentingannya masing masing. Maka kegiatan
kegiatan yang dilakukan manusia hakikatnya merupakan manifestasi dari kepentingan
tersebut.[19]
2.
Berdakwah melalui Media Sosial
Banyak kita
jumpai sekarang ini dakwah tidak hanya disampaikan lewat pengajian saja
tetapi sudah banyak disampaikan melalui media sosial seperti youtube,
instagram, facebook, twitter dll. Beberapa tahunterakhir ini, banyak kelompok
radikalilsme, tekstualisme menyebarkan konten keislaman yang kaku dan tekstual.
Maka kita sebagai kelompok islam moderat harus lebih giat lagi dalam berdakwah
dengan menggunakan media sosial sehingga model keislaman masyarakat kita tidak
kaku[20]
BAB II
PENUTUP
Dari uraian di
atas dapat kita simpulkan bahwa pendakwah mempunyai peranan penting dalam
masyarakat sebagai pembimbing untuk membawa masyarakat yang lebih bermartabat
dan sesuai tatanan masyarakat Indonrsia. Tentu dalam berdakwah pasti ada
rintangan dan cobaan yang dialami, maka sudah sepatutnya kita sebagai satu
kesatuan masyarakat harus saling babu membahu untuk menjaga kesatuan dan
kesatuan negara kesatuan republic indonesia
DAFTAR PUSTAKA
A. Muchlishon Rochmat, “Dakwwah Bil Medsos” dalam
https://www.nu.or.id (diakses pada 24 Agustus 2019 pukul 08.49 Am).
Al Bayanun, M Abu
Fath, Fiqih
Dakwah, Surakarta: Indiva Pustaka, 2008.
Andaara, Rastha Mahesta, Tak Kenal
Tak
Dakwah,
Jakarta: Gramedia, 2019.
Aziz, Moh Ali. Ilmu
Dakwah.
Jakarta: Kencana. 2017.
De Vito, Joseph A, The Interpersonal Communication book,New York: Harper and Row
Publisher, 1989.
Effendy, Onong Uchjana. Ilmu Komunikasi teori dan praktek, Bandung: Remaja Rosyda Karya.
1985.
Fisher, Dalam Aubrey. Teori – teori komunikasi, Bandung: Remaja Rosyda Karya. 1986.
Hamidi.Teori
komunikasi dan strategi dakwah, Malang: UMM press. 2010.
Organius, Yan. Islam
dan pengetahuan sains, Bogor: Bee Media Pustaka. 2012.
Rif’an, Ahmad Rifai’I, Generasi Emas. Jakarta: Exel Media Komputindo, 2019.
Sunarto, Retorika
Dakwah, Surabaya: Jauhar. 2014
Tasmuji
dkk,
IAD-ISD-IBD, Surabaya: Universitas Islan Negeri Sunan Ampel
Press. 2018.
[1]Moh.
Ali Aziz, Ilmu Dakwah, Cet 6
(Jakarta: Kencana, 2017), h. 186
[2]Nawawi, “Kompetensi Juru Dakwah”(Vol.3
,No.2, Juli-Desember 2009), hh 4-5
[3]M Abu Fath Al- Bayanun, Fiqih
Dakwah, Cet 1 (Surakarta: Indiva Pustaka, 2008), h. 75-88
[4]Joseph A. DeVito, The Interpersonal Communication book (New
York: Harper and Row Publisher, 1989)
[5]Hamidi, Teori komunikasi dan strategi dakwah ( Malang: UMM press, 2010)
[6]
Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi:
teori dan praktek (Bandung: Remaja Rosyda Karya, 1985) hal.9
[7]
Dalam Aubrey Fisher, Teori – teori
komunikasi ( Bandung : Remaja Rosyada karya, 1986), hal 424
[8]
Sunarto, Retorika Dakwah, (Surabaya:
Jauhar, 2014), h. 104
[9]
Mahesta Rastha Andaara, Tak kenal, Maka
Tak Dakwah, cet 1 (Jakarta: Gramedia, 2019)hh 6-7.
[10]
Depag RI, Al quran dan terjemahannya h. 376
[11]Yan Organius, Islam dan pengetahuan sains ( Bogor: Bee
Media Pustaka,2012)
[12]Yan Organius, Islam dan pengetahuan sains ( Bogor: Bee
Media Pustaka,2012)
[13]Moh Ali Aziz, Ilmu Dakwah, Cet 6 ( Jakarta: Kencana,
2017) hh 197-198.
[14]Yan Organius, Islam dan pengetahuan sains ( Bogor: Bee
Media Pustaka,2012)
[15]Ahmad
Rifa’I Rif’an, Generasi Emas, Cet 1(
Jakarta: Elex Media Komputindo,
2019), h.298
[16]Moh.
Ali Aziz, Ilmu Dakwah, Cet 6
(Jakarta: Kencana, 2017), h.
216
[17]
Depag RI, Al quran dan terjemahannya h. 94
[18]Moh.
Ali Aziz, Ilmu Dakwah, Cet 6
(Jakarta: Kencana, 2017), h.
221
[19]
Tasmuji, IAD-ISD-IBD, Cet 8
(Surabaya: UIN Sunan Ampel Press, 2018) h. 120
[20]
A. Muchlishon Rochmat, “Dakwwah Bil Medsos” dalam https://www.nu.or.id (diakses
pada 24 Agustus 2019 pukul 08.49 Am)
Dakwah from azrulafril