Saturday, November 30, 2019


TERAPI SHOLAT BAHAGIA
SHOLAT SUMBER OBAT DAN KEBAHAGIAAN

PENDALAMAN TERAPI SHOLAT BAHAGIA

Oleh: Prof. Dr. Moh Ali Aziz, M.Ag

Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya

Trainer “ Terapi Sholat Bahagia”


Assalamualaikum, Wr. Wb

      Secara bahasa sholat bermakna doa, sedangkan secara istilah, sholat merupakan suatu ibadah wajib yang terdiri dari ucapan dan perbuatan yang diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam dengan rukun dan persyaratan tertentu.

         Menurut hakekatnya, sholat ialah menghadapkan jiwa kepada Allah SWT, yang bisa melahirkan rasa takut kepada Allah dan bisa membangkitkan kesadaran yang dalam pada setiap jiwa terhadap kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.

       Menurut Ash Shiddieqy. Sholat ialah menggambarkan rukhus sholat atau jiwa sholat, yakni berharap kepada Allah dengan sepenuh hati dan jiwa raga, dengan segala kekhusyu’an dihadapan Allah dan ikhlas yang disertai dengan hati yang selalu berdzikir, berdoa dan memujiNya.

       Dalam mengerjakan sholat harus selalu berusaha menjaga kekhusu’anya. Secara bahasa, khusyu’ berasal dari kata khasya’a yakhsya’u khusyu’an, yang berarti memusatkan penglihatan pada bumi dan memejamkan mata atau meringankan suara ketika sholat.

        Khusyu’ itu artinya lebih dekat dengan khudhu’ yakni tunduk dan takhasysyu’ yakni membuat diri menjadi khusyu’. Khusyu ini bisa melalui suara, gerakan badan atau penglihatan. Ketiganya itu menjadi tanda kekhhusyu’an bagi seseorang dalam melaksanakan sholat.

          Secara istilah syara’, khusyu ialah keadaan jiwa yang tenang dan tawadhu’. Kemudian khusyu’ dihati sangat berpengaruh dan akan tampak pada anggota tubuh lainya. Menurut A. Syafi’I khusyu’ berarti menyengaja, ikhlas, tunduk lahir batin dengan menyempurnakan keindahan bentuk ataupun sikap lahirnya (badan), serta memenuhinya dengan kehadiran hati, kesadaran dan pemahaman segala ucapan maupun sikap lahiriyah tersebut

          Dalam kajian ini Mohammad Ali Aziz (Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Sholat Bahagia”) Mengatakan: “Secara lahiriah sholat berarti beberapa ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, itu sholat, adapun secara hakikinya ialah berhadapan hati (jiwa) kepada Allah, secara yang mendatangkan takut kepadanya serta menumbuhkan didalam jiwanya rasa kebesaran, kesempurnaan dan kesuasaanya atau mendahirkan hajat dan keperluan kita kepada Allah yang kita sembah dengan perkataan dan pekerjaan atau dengan kedua – duanya”.

         Islam adalah agama rahmatan lil alamin artinya islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta ini. Dalam islam kita diperkenalkan adanya sebuah kepercayaan, kewajiban, larangan serta berbagai pelajaran yang dapat kita tuangkan dalam kehidupan ini. Bayangkan jika manusia memahami dan mengamalkan ajaran – ajaran islam, maka akan sungguh indah dan damainya dunia ini.

        Sholat merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umat islam. Menunaikan sholat adalah suatu bentuk keimanan yang ditunjukan seorang Muslim kepada penciptanya. Meninggalkanya jelas merupakan kerugian besar, karena hal tersebut merupakan rukun islam yang tak lain adalah dasar keimanan. Perintah melaksanakan sholat secara langsung diperintahkan Allah SWT. Kepada Rasulullah SAW saat perjalanan isra’ mi’raj. Hal tersebut juga sudah tertuang dalam kitab suci Al Quran. Kita semua diperintahkan untuk mengerjakan sholat, namun bukan hanya sekedar melaksanakan sholat akan tetapi Iqamu Ash-shalat (mendirikan shalat), karena ayat – ayat perintah sholat rata-rata memerintahkan untuk Iqamu Ash-Sholat. Seperti contoh ayat berikut ini.

وَاَ قِيْمُواالصَّلٰوةَ وَاٰ تُواالزَّكٰوةَ وَا رْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ

“ Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah berserta orang – orang yang rukuk.”
(QS. Al-Baqarah: 43)

       Penjelasan diatas menjelaskan bahwa pentingnya sholat dalam  sebuah kehidupan. Melaksanakan sholat saja tidaklah cukup apabila kita tidak menerapkan ajaran yang telah diajarkan nabi. Kita semua tahu, bahkan mungkin kita semua sering melakukanya secara tidak sengaja. Saat kita melaksanakan ibadah sholat banyak hal  - hal yang lewat begitu saja dalam pikiran kita. Apa yang kita lupa terkadang muncul dalam ingatan kita saat kita melakukan ibadah sholat, banyak hal – hal yang melintas lewat sehingga membuat sholat kita merasa kurang khitmah dan menikmati komunikasi kita dengan sang khaliq. Oleh karena itu, perlu adanya niat dalam diri kita untuk mengubah sebuha kebiasaan kecil yang sengaja maupun tidak itu, agar kita dapat merasakan luar biasanya nikmat melakukan komunikasi dengan Allah SWT. Salah satunya dengan melaksanakan Pendalaman Terapi Sholat, seperti yang diajarkan oleh Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag ( Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia” ).

            Dalam Terapi Shalat Bahagia beliau juga menekankan bahwa sholat adalah salah satu cara dimana seseorang dapat mengingat segala nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada kita, begitu pula dalam Terapi Sholat Bahagia ini, yang mana dalam sholat yang paling utama adalah tidak mengesampingkan syarat – syarat sah, rukun – rukun shalat, syarat wajib sholat, sebab kualitas sholat juga sangat dipengaruhi oleh hal – hal tersebut. Kemudian dalam sholat juga diutamakan seseorang yang menjalankan harus dengan khusyu’ sekaligus tuma’ninah. Terapi sholat ini juga dapat diartikan sebagai usaha seseorang hamba untuk mengingat Allah SWT. Beberapa penelitian juga menunjukan bahwa jumlah orang yang kurang bahagia tidak berkurang sekalipun kesejahteraan lahiriah meningkat. Ada saja yang mengganggu  mengganggu pikiran. Kriteria-kriteria sebuah kebahagiaan dengan menggunakan shalat sebagai metode mencapai kebahagiaan dengan T2Q ( Tawakal, Tuma’ninah, dan Qana’ah) dan hal itu merupakan terapi mental yang ditekankan pada Shalat  Bahagia.

        Pada umumnya peshalat yang khusyu’ dijamin hidup bahagia, sebab seseorang yang menghadapi semua cuaca kehidupan dengan keimanan, kepasrahan dan penuh keridhoan atas semua takdir ALLAH. Dengan pembiasaan shalat secara tuma’ninah: tenang, sabar dan tidak tergesa-gesa, peshalat khusyu’ bisa menghadapi semua gelombang kehidupan dengan tuma’ninah pula. Muslim yang benar adalah muslim penting, karena ia hidup dengan qanaah, tidak tersiksa oleh deretan daftar keinginan. Kebahagiaan bersifat subyektif. Jika peshalat khusyu’ misalnya terkena suatu penyakit, atau orang tersebut ditakdirkan buta, secara obyektif ia menderita, karena tidak bisa bekerja dan menikmati hidup.

اِنَّنِيْۤ اَنَا اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّاۤ اَنَا فَا عْبُدْنِيْ  ۙ وَاَ قِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ

“Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah sholat untuk mengingat aku (QS. At Thaha: 14)


            Berikut metode – metode Sholat Terapi Bahagia :

1.      Takbiratul ikhram (berdiri)
Memiliki kata kunci SUBHAN (Syukur, Bimbingan, Ketahanan iman). Takbiratul ikhram merupakan awal dari aktifitas ibadah. Pada posisi ini, perokaat membaca doa pembuka (iftitah), surat al-Fatihah dan beberapa ayat al-Qur‟an. Setelah selesai dari pemujaan doa dan pengesahan Allah, disyariatkan bagi pelaku shalat untuk memohon jaminan dari Allah agar dikabulkan semua permintaan dan sembahan dengan membaca amin sebagaistempel pengesahan sekaligus penutup

2.      Rukuk
Memiliki kata kunci TURUT (Tunduk dan Menurut. Gerakan wajib berikutnya yaitu dengan membungkukkan badan dengan kedua tangan di lutut, dan wajah diarahkan ke tempat sujud. Posisi rukuk ini akan membengkokkan tulang belakang untuk menggerakkan, melembutkan otot-otot, melemaskan tulang-tulang yang kejang dan kaku, dan mengendorkan ruas-ruas tulang belakang, supaya tulang belakang kembali sesuai anatomi.

3.      I’tidal
Memiliki kata kunci HADIR (Hak pujian dan Takdir). Posisi ini adalah dengan bangkit dari rukuk) dan makna filosofinya, ada dua hal penting yang perlu dihayati dalam posisi ini, yaitu Hak pujian dan Takdir. Kita tidak dibenarkan mengharap pujian manusia dalam pekerjaan apapun. Hak pujian hanya milik Allah. Dengan demikian, menghapus harapan pujian orang berarti menutup sumber kecemasan dan kekecewaan. Begitupun dengan takdir, Tidak ada yang terjadi di dunia ini secara kebetulan. Semuanya terjadi atas Rencana Besar. Dengan keyakinan itu, seorang muslim memiliki daya tahan yang dahsyat menghadapi kegagalan. Ia juga bisa menahan diri dari amarah kepad orang lain yang menyebabkan kegagalan itu, sebab ia percaya dengan yakin bahwa semua yang terjadi sebagai kehendak Allah.

4.      Sujud
Memiliki kata kunci MASJID (Maaf, Sinar, Jiwa dan raga). Sujud adalah posisi paling agung dalam shalat setelah rukuk. Dalam sujud, orang tidak bisa menoleh kemanapn kecuali menghadap Allah. Rukuk adalah simbol penghambaan, sedangkan sujud simbol kedekatan. Sujud merupakan pembeda muslim dan setan, sebab setan selalu menolak melakukannya. Sujud juga posisi terdekat antara manusia dan Allah.

5.      Duduk antara dua sujud
Memiliki kata kunci  AKSI (Ampunan, Kasih, Sejahtera dan Iman). kita duduk dengan otot-otot pangkal paha. Dalam sikap duduk ini, salah satu saraf pangkal paha yang besar berada di atas kedua tumit kaki. Tumut dilapisi oleh sebuah otot yang berfungsi sebagai bantal. Dengan demikian, tumit menekan otot-otot pangkal paha serta saraf pangkal paha yang besar itu, sehingga saraf pangkal paha itu terpijit. Pijitan tersebut dapat menghindarkan dari penyakit saraf pengkal paha yang menyebabkan rasa sakit, nyeri, sehingga tidak dapat berjalan.

6.      Tasyahud
Memiliki kata kunci SOSIAL (Solawat, Persaksian dan Tawakkal). Posisi duduk ini disebut “tasyahud” karena di dalamnya ada bacaan “syahadat”, sebuah ikrar keimanan, “Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah”. Hal tersebut menjelaskan bahwa kita harus menerima apapun takdir Allah dengan ikhlas, ridla dan senang hati, serta bertawakal kepada Allah.

          Dengan metode-metode dan penerapan inilah shalat bahagia itu di gunakan untuk mencapai sebuah kebahagiaan dengan tanpa mengurangi nilai-nilai penting dan kesakralan sebuah ibadah sholat. Dari pembahasan di atas menunjukan bahwasanya shalat adalah sebuah kewajiaban bagi semua umat islam, pada dasarnya shalat juga sebagai sebuah prosesi ritual yang dilakukan oleh orang yang beriman sebagai wujud penghambaannya terhada Allah SWT. Dalam shalat, hal paling utama dan paling penting adalah tentang diterimanya shalat, dan hal yang menentukan shalat seseorang itu diterima ialah menjalakan rukun, syarat-syarat sah dan wajibnya shalat dengan benar sesuai syariatnya.
           
              Dengan tata cara sholat seperti itu pastinya tidak hanya doa saja yang harus sesuai tetapi juga harus diimbangi dengan gerakan sholat yang tuma’ninah. Lakukan hal tersebut dengan catatan sholat munfarid(sendiri) tidak disarankan untuk sholat berjamaah. Melakukan sholat seperti itu tidak hanya membuat hati kita menjadi tenang tetapi juga membuat penyakit yang ada ditubuh kita sembuh, penyakit ambean dan kanker payudara pun bisa sembuh jika kita ikhlas mengerjakan sholat dengan cara Terapi Sholat Bahagia Tersebut semoga bermanfaat.
         
  Wassalamualaikum, Wr. Wb.





Tuesday, September 24, 2019


“PENDAKWAH”

Oleh
Luthfi Abdillah (B94219083)
M. Romadlon Aji (B94219086)
M. Fahmi Ashari (B94219084)

Kelas D3
Dosen Pengampu
Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M. Ag

Asisten Dosen 1
Ati’ Nursyafa’ah M. Kom I

Asisten Dosen 2
Baiti Rahmawati S. Sos

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN AMPEL SURABAYA
2019


KATA PENGANTAR
            Puji syukur kepada Allah SWT.yang telah memberi nikmat, kesempatan untuk mengerjakan tugas ini, solawat dan salam kami panjatkan kepada Nabi Muhammad SAW. Terima kasih kepada Prof. Dr. H. Moh.Ali Aziz, M.Ag dan ibu Ati’ Nursyafa’ah, M. Kom.I serta ibu Baiti Rahmawati, S.Sos yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk mengerjakan tugas ini.
            Saya berharap buku ini bisa memberikan kontribusi yang berarti bagi perkembangan dakwah islam dimasa mendatang.

Surabaya, 23Agustus 2019


Penulis





DAFTAR ISI



Kata Pengantar ................................... ii

Daftar Isi.............................................  1

Bab I Pembahasan..............................   2

A.    Kualifikasi Pendakwah................   2

B.     Pendakwah Strategis...................   7

C.     Kemuliaan Pendakwah.................  9

D.    Problematika Seputar Pendakwah..13

BAB II Penutup......................................20

DAFTAR PUSTAKA............................ 21




BAB I

PEMBAHASAN



A. Kualifikasi Pendakwah

Pendakwah  adalah  pelaku dakwah. Ia disebut juga sebagai Da’i. Sebagaimana dakwah bisa dilakukan dengan lisan, tulisan, dan perbuatan maka pendakwah juga demikian, seorang penulis tentang keislaman, penceramah islam, guru agama islam, guru ngaji dan lembaga keislaman lainnya adalah termasuk sebagai pendakwah.

Dakwah bisa dilalukan oleh individu maupun kelompok, dakwah perorangan dilakukan oleh seseorang dan dakwah kelompok oleh sebuah lembaga atau organisasi. Dakwah merupakan  kewajiban bagi seluruh ummat muslim sehingga setiap orang yang melakukan dakwah dapat disebut sebagai pendakwah, namun pendakwah juga dibagi dua menurut keahlian dan keilmuannya, yakni secara umum dan secara khusus. Secara umum adalah setiap muslim yang sudah dewasa dan berdakwah sesuai dengan kemampuannya. Secara khusus adalah muslim yang telah ahli atau fokus mempelajari tentang agama islam, yaitu ulama, ustadz, mubalig, dan lain sebagainya.[1]

Saat ini jalan dakwah sangat rumit, seorang pendakwah harus melewati berbagai rintangan dan cobaan, oleh sebab itu, seorang pendakwah harus mempunyai persiapan sebelum berdakwah. Banyak da’i yang tidak kuat dengan rintangan dan cobaan dalam berdakwah yang akhirnya menepi dan menyerah dari jalan dakwah. Zaman  sudah semakin maju, ilmu pengetahun dan teknologi telah berkembang sangat pesat, oleh karena itu dakwah bisa dibilang bertambah sulit, sebagai pendakwah di era yang sekarang ini harus benar-benar mempunyai kompetensi yang mumpuni dalam dirinya.

Menurut Abdul Munir Mulkhan, kompetensi dai dapat dibedakan menjadi dua, yaitu kompetensi substantif dan kompetensi metodologis. Kompetensi substantif berupa kondisi dai atau mubaligh dalam dimensi idealnya. Secara garis besar ada tujuh kompetensi substantif atau kompetensi dasar bagi seorang dai atau mubaligh:

1.       Pemahaman agama Islam secara cukup, tepat dan benar: tugas seorang dai adalah menyebarkan agama Islam ke tengah masyarakat. Semakin luas pengetahuan agama seorang mubaligh, semakin banyak ia mampu memberikan ilmu kapada masyarakat. Di samping itu, pemahaman Islam harus tepat dan benar. Artinya, berbagai bid’ah, kufrat, dan tahayul yang sering kali ditempelkan oleh Islam harus dihilangkan sama sekali.

2.       Pemahaman hakikat gerakan dakwah: gerakan dakwah adalah amar ma’ruf nahi munkar dalam menampilkan ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat senantiasa dikembalikan pada sumber pokok, yaitu al-Qur’an dan al-Hadis. Gerakan dakwah merupakan suatu alat, bukan tujuan.Perjuangan untuk menegakan amal shalih di zaman modern tidak mungkin dilakukan kecuali dengan organisasi yang rapi dan modern.

3.       Memiliki akhlak al karimah: setiap dai harus memiliki akhlak yang mulia karena mereka akan dijadikan panutan oleh masyarakat. la akan selalu diikuti oleh umat. Oleh karena itu, akhlak al karimahharus menjadi pakaian sehari-hari para dai.

4.       Mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan umum yang relatif luas: agar para dai mampu menyuguhkan ajaranajaran Islam dengan lebih baik, ia harus memiliki pengetahuan umum yang relatif luas. Dalam kenyatannya, para dai yang efektif adalah mereka yang mempunyai pengetahuan yang cukup luas.

5.       Mencintai audiens dengan tulus: pada dasarnya, para dai adalah pendidik umat. Oleh karena itu, sifat-sifat pendidik yang baik seperti tekun, tulus, sabar, dan pemaaf juga harus dimiliki oleh para juru dakwah atau dai.

6.       Mengenal kondisi lingkungan dengan baik: menyampaikan pesan pesan Islam tidak akan berhasil dengan baik tanpa memahami lingkungan atau ekologi sosial-budaya dan sosio-politik yang ada. Tabligh Islam tidak dapat dilepaskan dari setting kemasyarakatan yang ada. Di sinilah dai harus jeli dan cerdas memahami kondisi umat ijabah dan umat dakwah yang dihadapi supaya dapat menyodorkan pesan-pesan Islam tepat sesuai dengan kebutuhan mereka.

7.       Memiliki rasa ikhlas liwajhillah: seorang dai harus memiliki semboyan, “Kami bertabligh kepadamu semata-mata hanya karena Allah, kami tidak meminta imbalan darimu dan tidak pula kami mengharap pujian”. Semboyan ini harus perlu menjadi niat dalam melaksanakan dakwah Islam. Jika keikhlasan telah menjadi dasar dalam berdakwah, maka rintangan, hambatan, dan penghalang apapun yang dihadapi insya Allah tidak akan menjadi hal yang memberatkan dan tidak akan membuat putus asa baginya.

Kompetensi-kompetensi substantif di atas adalah sesuatu yang wajib adanya bagi setiap dai. Kompetensi tersebut adalah kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seorang dai. Selain itu, seorang dai juga harus memiliki kompetensi metodologis, yaitu sejumlah kemampuan yang harus dimilki oleh seorang dai yang berkaitan dengan masalah perencanaan dan metodologi dakwah. Dengan ungkapan lain, kompetensi metodologis adalah kemampuan yang ada dalam diri dai sehingga ia mampu membuat perencanaan dakwah yang akan dilakukan dengan baik, sekaligus mampu melaksanakan perencanaan tersebut.Kompetensi metodologis berhubungan dengan kemampuan dai untuk merencanakan dakwah karena aktivitas dakwah pada dasarnya mempunyai tujuan untuk mempengaruhi dan merubah pola pikir, perilaku, dan tindakan manusia yang kurang baik menjadi lebih baik. Untuk megubah pola pikir dan perilaku seseorang tidaklah mudah sehingga dakwah harus direncanakan secara matang agar dakwah dapat berjalan efektif dan efisien.[2]

Menurut Al-Bayanun dalam bukunya Fikih Dakwah mengatakan bahwa seorang pendahwah harus memiliki perkara-perkara penunjang dakwah yang dapat disimpulkan sebagai berikut:

1.             Iman kepada perkara yang ia serukan, karena sesungguhnya keimanan pendakwah terhadap perkara yang ia serukan, pemahamannya terhadap kepentingan, serta kebutuhan masyarakat.

2.             Mempunyai hubungan yang erat dengan Allah, karena para pendakwah merupakan pihak yang paling membutuhkan pertolongan dan penyelarasan dari Allah.

3.             Ilmu dan pemahaman tentang apa yang ia bawakan, karena hanya orang-orang yang berilmu saja yang mampu mengemban dakwah ini dengan sebenarnya.

4.             Mengamalkan ilmunya serta konsisten dalam tingkah lakunya, karena tidak akan ada kebaikan sama sekali manakala ilmu tidak diiringi dengan perbuatan.

5.             Pemahaman yang komprehensif, yaitu pemahaman para pendakwah terhadap hal-hal yang berkaitan dengan permasalahan dakwah, sama saja berkaitan dengan:

a.              Realitas dan tuntutan-tuntutan dakwah di eranya.

b.             Kondisi sosial kemasyarakatan objek dakwahnya.

c.              Ataupun perkara yang berkaitan dengan pendakwah itu sendiri dan yang terkait dengan waktu dan kondisi

6.             Bijaksana dalam bersikap, yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Sudah seharusnya pendakwah itu arif dalam metode-metode dakwahnya, memilih metode yang baik dan sesuai dengan objek dakwahnya serta menempatkan metode yang sesuai dengan kondisinya.

7.             Bertingkah laku dengan akhlak yang baik. Merupakan kewajiban bagi para pendakwah untuk memaksa dirinya berhias dengan akhlak yang mulia dan menghindari dari akhlak-akhlak yang buruk.

8.             Berprasangka baik kepada segenap muslimin. Seorang pendakwah hendaklah berbaik sangka kepada muslimin secara keseluruhan serta memberikan keputusan pada mereka dengan bukti-bukti yang jelas.

9.             Menutupi aib orang lain.

10.         Bersosialisasi dengan masyarakat manakala hal itu diperlukan, dan menyingkir dari masyarakat manakala hal itu dibutuhkan.

11.         Termasuk sifat para pendakwah  ialah menempatkan seseorang sesuai dengan kemampuannya.

12.         Termasuk sifat para aktivis dakwah ialah saling tolong menolong dengan pihak lain dalam pelaksanaan dakwah, bermusyawarah dan saling menasihati antar sesama aktivis dakwah.

13.         Sifat aktivis dakwah yang lainnya ialah selalu mengerti bahwa dia dituntut untuk menjadi pribadi sempurna yang diteladani tanpa cela.[3]



A.      Pendakwah Strategis

Tentu kita sebagai makhluk yang selalu berinteraksi dengan manusia yang lain apalagi kita sebagai pendakwah, pastinya kita mempunyai hal yang harus dimiliki oleh kita yaitu tentang strategi. Harold D. Laswell mengatakan cara yang terbaik untuk menerangkan kegiatan komunikasi adalah menjawab elemen pertanyaan sebagai berikut: who (siapa komunikatornya), says what (pesan apa yang dikatanya), in which channel (Media apa yang digunakan), to whom (siapakah komunikasinya), dan with what effect (efek apa yang diharapkan).[4]

            Nabi Muhammad Saw, sebagai imam para Da’i, telah menerapkan strategi dakwah secara bijak, sehingga melalui beliau, Allah memberi manfaat kepada hambanya dan menyelematkan mereka dari syirik menuju tauhid.Siasat beliau tersebut bermanfaat dalam menyukseskan dakwahnya, membangun negaranya, menguatkan kekuasaanya, dan meninggikan kekuasaanya.Sepanjang sejarah politik umat manusia tidak pernah ada seseorang pun pembaru yang mempunyai pengaruh besar seperti Nabi Muhammad Saw.Terkumpul adanya jiwa seorang pemimpin, pendidik yang bijak, kecerdasan akal, orisinalitas pendapat, semangat yang kuat serta kejujuran.Semua itu telah terbukti pada diri beliau.[5]

            Komunikasi interpersonal adalah komunikasi antar komunikator dengan seseorang komunikan, bersifat dialogis berupa percakapan.[6]Komunikasi interpersonal mempunyai ciri khusus yaitu sifat komunikasinya dua arah, adanya timbal balik antara komunikator dengan komunikan.Komunikasi jenis ini dianggap lebih efektif dalam hal upaya mengubah sikap, pendapat atau perilaku seseorang. Menurut Mortensen (1972)[7].

            Dalam proses komunikasi dakwah, seoran pendakwah wajib mempertimbangkan patut tidaknya sebuah pesan yang disampaikan. Tidak semua pesan yang disampaikan bisa beradaptasi, memberikan solusi, atau bahkan bisa diterima dengan senang hati, oleh sebab itu, diperlukan pertimbangan lain yang bersifat humoris. Jangan sampai pesan dakwah yang disampaikan justru akan menimbulkan kontra produktif dengan tujuan dakwah yang seharusnya dicapai. Dengan demikian diharapkan bahwa dakwah trsebut mampu bersifat adaptif, solutif, loyalis, atau produktif. Artinya bahwa tersebut bisa beradaptasi dengan lingkungan, bisa menerima pesan dakwah dengan kesadaran mereka sendiri melalui pesan yang disampaikan bahasa yang menyenangka hati atau humoris[8]



B.       Kemuliaan Pendakwah

Dakwah itu merupakan kegiatan yang mulia karena dakwah itu hanya Allah SWT berikan kepada Nabi, Rasul, dan Umat terdahulu saja. Namun khusus umat Nabi Muhammad Saw, itu special, kita yang bukan nabi bahkan Rasul, ternyata juga menerima tongkat estafet dakwah nabi Muhammad Saw, Karena kita adalah umat terbaik dan menjadi perantara manusia lain untuk lebih mengenal Allah.[9]

Rasullullah saw berdakwah dengan tujuan adalah agar masyarakat Arab meninggalkan masa kejahilianya di bidang agama, moral dan hukum, sehingga meyakini kebenaran kerasulan nabi Muhammad saw dan ajaran islam yang disampaikanya, kemudian mengamalkanya dalam kehidupan sehari- hari. Pada masa dakwah secara sembunyi – sembunyi ini, Rasullullah saw menyeru untuk masuk islam orang orang yang berada di lingkungan rumah tangganya sendiri dan kerabat serta sahabat dekatnya. Mengenai orang- orang yang telah memenuhi seruan dakwah Rasullullah saw tersebut adalah, Khadijah binti Khuwailid, Ali bin Abu Thalib, Zaid bin Haritsah, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Ummu Aiman.

            Kemudian Rasullullah dakwah secara terang- terangan ini dimulai sejak tahun ke – 4 dari kenabian yakni setelah turunya wahyu yang berisi perintah Allah SWT agar dakwah itu dilaksanakan secara terang-terangan. Al Quran Surah 26: 214 – 216.

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأقْرَبِينَ (٢١٤) وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (٢١٥) فَإِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ (٢١٦     

214. Dan berilah peringatan kepada kerabat kerabatmu yang terdekat, 215. Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, Yaitu orang-orang yang beriman. 216. Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan".[10]

Di era sekarang tugas kenabian nabi Muhammad saw dilanjutkan perjuanganya oleh para ulama, kyai, mubalig untuk memberikan dan menyebarkan keilmuanya tentang agama islam dan menjadi tokoh masyarakat di sekitar kita melalui majelis – majelis ilmu yang diadakan. Majelis ilmu ini sangat bermanfaat bagi umat muslim untuk memperdalam keilmuan islamnya. Namun banyak orang – orang juga menganggap majelis ilmu tidak penting karena membuang – buang waktu dalam mendengarkan majelis ilmu tersebut.Rasullullah saw bersabda:” apabila kalian melewati taman- taman surga ambilah selalu hasilnya.” Para sahabat bertanya: “ apakah taman- taman surga itu, ya Rasulullah ?” Beliau menjawab : “ Majelis-majelis ilmu.” (HR. Tabrani).Dalam Hadist Riwayat Tabrani Rasulullah pun bersabda bahwa majelis ilmu itu penting bagi umat muslim karena akan memperdalam ilmu keislaman kita[11].

Mengikuti majelis ilmu pun tidak hanya sekedar mengikuti saja namun juga harus menyerap atau memahami ilmu yang dibagikan oleh pemateri tersebut.Dalam mengikuti majelis ilmu sendiri kita juga harus mengajak keluarga dan sahabat kita untuk mengikuti majelis ilmu tersebut. Dengan mengikuti majelis ilmu tersebut akan membukakan hati kita untuk berbuat lebih baik lagi kedepanya setelah mengikuti majelis ilmu tersebut seperti dalam kisah Lukmanul hakim yang berkata kepada anaknya ”wahai anak – anaku,  hendaknya engkau menyertai para ulama dan dengarkan  ucapan ahli hikmah, karena sesungguhnya Allah menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana Dia menghidupkan tanah yang mati dengan air dan hujan” ( Targhib )[12]. Ulama dan kyai serta mubalig adalah penerus perjuangan nabi Muhammad Saw dan khilfah di muka bumi ini untuk memberikan pengetahuan Amar ma’ruf nahi mungkar kepada masyarakat mengajak untuk  berbuat kebaikan dan menjauhi kejahatan.

Sebagai khalifah di bumi ini untuk memberikan pencerahan atau memberikan ilmu keislaman yang baik kepada masyarakat seorang pendakwah harus mempunyai kriteria yang dan keilmuan yang  cukup mumpuni agar ilmu tersebut dapat dipahami oleh orang yang mendengarkan ceramah tersebut.Tidak hanya ilmu yang diperhatikan tetapi juga harus mempunyai perilaku yang dapat dijadikan contoh oleh masyarakat dan juga mampu berguna bagi masyarakat tersebut tentunya.

“Al- Habib ‘Abdullah bin ‘ Alawi al-Haddad (t.t: 15-16 ) meguraikan tipologi pendakwah ditinjau dari ilmu dan amal atau antara fatwa dan perilakunya”. Berikut Kriterianya:

1.       Pendakwah memiliki menguasai ilmu agama, perilakunya sesuai dengan keilmuanya, dan ia ikhlas mengajarkan dan mengajak orang lain mengikuti ilmunya.

2.       Pendakwah yang menguasai ilmu agama, perilakunya sesuai dengan ilmunya, tetapi ia enggan untuk mengajarkan ilmunya kepada masyarakat luas. Jika keenggananya disebabkan oleh sifat kikirnya atau sengaja menyembunyikanya, maka ia berdosa. Namun jika meninggalkan dakwah tersebut karena kesibukan menjalankan kewajiban agama lainya, sementara masih ada ulama lain yang berdakwah maka ia tidak berdosa.

3.       Pendakwah yang memiliki kedalaman ilmu agama, bersemangat mengajarkan ilmunya kepada masyarakat luas, tetapi perilakunya tidak sesuai dengan ilmunya. Penyimpangan dari syariat islam ini adakalanya karena malas dan berat melakukanya atau selalu menunda- nunda. Pendakwah jenis ini ingin cepat terkenal, menganggap dakwah lebih penting daripada keteladanan. Ia diibaratkan memberi pakaian kepada orang lain, sedangkan dirinya dalam keadaan telanjang.

4.       Pendakwah yang memiliki kedalaman ilmu agama, namun ia tidak menjalankan ilmu yang dimiliki dan juga enggan mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Keinginan duniawi lebih menguasai dirinya seperti, harta, takhta, popularitas, dan sebgaianya

5.       Pendakwah yang memiliki kedalaman ilmu agama, namun ia tidak menjalankan ilmu yang dimiliki dan juga enggan mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Sebaliknya, ia menyebarkan kesesatan dan mencampur aduk antara yang benar (haq) dan yang salah (bathil). Kesesatan kemudian diikuti oleh banyak orang bahkan lintas generasi di belakangnya. Ini yang ditegakan dalam Al – Quran surah al – Baqarah (2) ayat 79.[13]           



فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِندِ اللّهِ لِيَشْتَرُواْ بِهِ ثَمَناً قَلِيلاً فَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا يَكْسِبُونَ ﴿٧٩﴾

Seorang Pendakwah mempunyai ciri khas masing – masing untuk menyampaikan dakwahnya kepada masyarakat melalui majelis ilmu yang diadakanya. Dan banyak pemahaman yang berbeda setiap ulama,kyai atau mubalig tapi hal itu jangan sampai membuat perpecahan antara umat islam di muka bumi ini. Namun dalam dakwah kolektif, masing – masing pendakwah saling melengkapi satu sama lain.

Orang yang mengajarkan kebaikan seperti pendakwah, ulama dan mubalig adalah orang yang bersekutu dengan kebaikan dan juga orang yang belajar dalam hal kebaikan maka juga akan mendapat ganjaran yang sama. Rasullullah Saw. Bersabda, “ Orang yang mengajar dan diajar keduanya bersekutu dalam kebaikan, tidak ada lagi kebaikan pada sekalian manusia selain mereka.” ( HR. Ibnu Majah).[14]



D. Problematika Seputar Dakwah

            Setiap manusia yang hidup pastilah mendapatkan cobaan, tidak lain seorang pendakwah, sering kali terjadi, pendakwah sukses atau kondang bukannlah mereka yang pintar dalam suatu ilmu, namun mereka selalu mengamalkan ilmu yang didapatnya kepada orang lain .meski hidup tidak selalu mulus, maka tanpa sikap pantang menyerah, kita akan kehilangan momentum puncak keberhasilan kita terutama dalam berdakwah. Thomas Alva Edision mengatakan, banyak orangyang gagal dalam hidup adalah orang – orang yang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah.[15]

Secara bahasa problem berasal dari bahasa inggris yang berarti masalah. Sedangkan dakwah berasal dari bahasa arab yang berarti ajakan. Secara istilah dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang dihadapi seseorang ketika mengajak dalam hal kebaikan, pada hakikatnya merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan itu sendiri karena telah terwujud sebagai hasil dari kebudayaan manusia itu sendiri, dan akibat dari interaksi sesama manusia.

Dalam berdakwah pasti ada rintangan atau masalah yang harus pendakwah hadapi, diantaranya yakni:

1.       Pendakwah Perempuan



Pada zaman sekarang ini banyak pendakwah perempuan yang terkenal di Indonesia contoh saja Mamah Dedeh.Beliau ini adalah sosok perempuan yang disegani oleh perempuan di Indonesia karena ilmunya.Beliau sering mengisi acara keislaman seperti di Indosiar, Trans 7 dan masih banyak lagi.Lalu hal ini banyak diperdebatkan oleh kalangan ulama. Antara lain apakah boleh atau tidaknya perempuan berdakwah karena berkomunikasi dengan lawan jenis ataupun suaranya itu aurat. Sebenarnya  dalam hadits riwayat Bukhori Muslim dari Sa’id Al. Khudri yang dikutip dari awal buku ini bahwa diantara peserta pengajian adalah perempuan. Keterangan tersebut bahwa dapat disimpulkan kalau perempuan diperbolehkan untuk pengajian agama, berdakwah, menuntut ilmu dll.[16]



2.             Berdakwah Kepada Umat Non Islam



Hal tersebut juga dijadikan pembahasan di kajian islam. Namun kita lihat dari sudut pandang bahwa  agama islam adalah agama yang rohmatan lil alamin. Jadi yang selama ini diperselisihkan diantara umat islam. Tercantum dalam al. quran surat al.imron ayat 110, dalam terjemahan Indonesia yaitu

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan unutk manusia , menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, dan beriman kepada Allah . Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka diantara mereka yang beriman, dan ebanyakan mereka adalah orang orang yang fasik(QS. Al. Imron[3]:100.[17]



3.             Honor Bagi Pendakwah

Sekarang di Indonesia banyak memanfaatkan dakwah sebagai profesi, padahal dakwah itu merupakan syiar agama kepada orang orang dengan tujuan mengajak kebaikan dan menjauhi kemungkaran.Namun faktanya masih banyak ditemui dakwah itu sebagai media pencari pekerjaan. Sebenarnya dalam islam bahwa al.quran telah menyebutkan bahwa pendakwah tidak diperkenankan meminta upah dari dakwahnya. Sedangkan hukum bagi pendakwah yang meminta dan menerima imbalan karena memberikan jasa dakwah adalah makruh. Jika ia melakukannya maka ia tidak dikenakan dosa, tetapi menjatuhkan martabatnya. Secara etika, meminta imbalan dari kegiatan dakwah lebih buruk daripada sekedar menerimanya.Meminta berarti pendakwah menentukan honoriumnya baik secara sepihakl maupun negosiasi.Adapun menerima imbalan semata, tidak meminta minta, berarti pendakwah bersikap pasif, tidak meminta minta merupakan dari penentuan mitra dakwah.Sementara pendakwah berhak menerima atau menolaknya.[18] Jadi pendakwah yang menerima honor ataupun tidak itu tergantung pada niat sang pendakwah.






4.             Pengkaderan

          merupakan hal serius yang dihadapi bangsa Indonesia sekarang ini. Yaitu pada pemudanya.Karena mereka merupakan aset besar bangsa dalam menyongsong globalisasi. Sekarang ini tidak dapat dipungkiri lagi bahwa banyak pemuda Indonesia yang terjerumus ke jalan yang suram seperti minum minuman keras, narkoba , pergaulan bebas dan masih banyak lagi. Dengan membekali pemuda dengan aqidah yang kuat, maka mereka mempunyai benteng yang tangguh dalam era globalisasi dan informasi sekarang ini, insyaallah masa depan dakwah kita akan tetap ceria.

Dari semua masalah pasti ada sebuah faktor yang memicu adanya masalah tersebut dari jalan dakwah, dibawah ini adalah faktor-faktor penyebab problematika dakwah:

1.              Perbedaan Kepentingan

Kita ketahui bahwa setiap orang yang ada di muka bumi ini pasti mempunyai tujuan yang berbeda beda, yang ditimbulkan dari tingkah laku individu. Antara yang menyampaikan pesan dan yang menerima pesan belum tentu saling memahami dan mengerti apa yang telah diucapkan oleh si pendakwah. Dengan berpegang pada prinsip bahwa tingkah laku individu merupakan cara atau alat dalam memenuhi kepentingannya masing masing. Maka kegiatan kegiatan yang dilakukan manusia hakikatnya merupakan manifestasi dari kepentingan tersebut.[19]

2.              Berdakwah melalui Media Sosial

Banyak kita  jumpai sekarang ini dakwah tidak hanya disampaikan lewat pengajian saja tetapi sudah banyak disampaikan melalui media sosial seperti youtube, instagram, facebook, twitter dll. Beberapa tahunterakhir ini, banyak kelompok radikalilsme, tekstualisme menyebarkan konten keislaman yang kaku dan tekstual. Maka kita sebagai kelompok islam moderat harus lebih giat lagi dalam berdakwah dengan menggunakan media sosial sehingga model keislaman masyarakat kita tidak kaku[20]




BAB II

PENUTUP

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa pendakwah mempunyai peranan penting dalam masyarakat sebagai pembimbing untuk membawa masyarakat yang lebih bermartabat dan sesuai tatanan masyarakat Indonrsia. Tentu dalam berdakwah pasti ada rintangan dan cobaan yang dialami, maka sudah sepatutnya kita sebagai satu kesatuan masyarakat harus saling babu membahu untuk menjaga kesatuan dan kesatuan negara kesatuan republic indonesia




DAFTAR PUSTAKA



A. Muchlishon Rochmat, “Dakwwah Bil Medsos” dalam https://www.nu.or.id (diakses pada 24 Agustus 2019 pukul 08.49 Am).

Al Bayanun, M Abu Fath, Fiqih Dakwah, Surakarta: Indiva Pustaka, 2008.

Andaara, Rastha Mahesta, Tak Kenal Tak Dakwah, Jakarta: Gramedia, 2019.

Aziz, Moh Ali. Ilmu Dakwah. Jakarta: Kencana. 2017.

De Vito, Joseph A, The Interpersonal Communication book,New York: Harper and Row Publisher, 1989.

Effendy, Onong Uchjana. Ilmu Komunikasi teori dan praktek, Bandung: Remaja Rosyda Karya. 1985.

Fisher, Dalam Aubrey. Teori – teori komunikasi, Bandung: Remaja Rosyda Karya. 1986.

Hamidi.Teori komunikasi dan strategi dakwah, Malang: UMM press. 2010.

Organius, Yan. Islam dan pengetahuan sains, Bogor: Bee Media Pustaka. 2012.

Rif’an, Ahmad Rifai’I, Generasi Emas. Jakarta: Exel Media Komputindo, 2019.

Sunarto, Retorika Dakwah, Surabaya: Jauhar. 2014

Tasmuji dkk, IAD-ISD-IBD, Surabaya: Universitas Islan Negeri Sunan Ampel Press. 2018.



[1]Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, Cet 6 (Jakarta: Kencana, 2017), h. 186

[2]Nawawi, “Kompetensi Juru Dakwah”(Vol.3 ,No.2,  Juli-Desember 2009), hh 4-5
[3]M Abu Fath Al- Bayanun, Fiqih Dakwah, Cet 1 (Surakarta: Indiva Pustaka, 2008), h. 75-88
[4]Joseph A. DeVito, The Interpersonal Communication book (New York: Harper and Row Publisher, 1989)
[5]Hamidi, Teori komunikasi dan strategi dakwah ( Malang: UMM press, 2010)
[6] Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi: teori dan praktek (Bandung: Remaja Rosyda Karya, 1985) hal.9
[7] Dalam Aubrey Fisher, Teori – teori komunikasi ( Bandung : Remaja Rosyada karya, 1986), hal 424
[8] Sunarto, Retorika Dakwah, (Surabaya: Jauhar, 2014), h. 104
[9] Mahesta Rastha Andaara, Tak kenal, Maka Tak Dakwah, cet 1 (Jakarta: Gramedia, 2019)hh 6-7.
[10] Depag RI, Al quran dan terjemahannya h. 376
[11]Yan Organius, Islam dan pengetahuan sains ( Bogor: Bee Media Pustaka,2012)
[12]Yan Organius, Islam dan pengetahuan sains ( Bogor: Bee Media Pustaka,2012)
[13]Moh Ali Aziz, Ilmu Dakwah, Cet 6 ( Jakarta: Kencana, 2017) hh 197-198.
[14]Yan Organius, Islam dan pengetahuan sains ( Bogor: Bee Media Pustaka,2012)
[15]Ahmad Rifa’I Rif’an, Generasi Emas, Cet 1( Jakarta: Elex Media Komputindo, 2019), h.298
[16]Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, Cet 6 (Jakarta: Kencana, 2017), h. 216
[17] Depag RI, Al quran dan terjemahannya h. 94
[18]Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, Cet 6 (Jakarta: Kencana, 2017), h. 221
[19] Tasmuji, IAD-ISD-IBD, Cet 8 (Surabaya: UIN Sunan Ampel Press, 2018) h. 120
[20] A. Muchlishon Rochmat, “Dakwwah Bil Medsos” dalam https://www.nu.or.id (diakses pada 24 Agustus 2019 pukul 08.49 Am)