TERAPI
SHOLAT BAHAGIA
SHOLAT SUMBER OBAT DAN KEBAHAGIAAN
PENDALAMAN TERAPI SHOLAT BAHAGIA
Oleh: Prof. Dr.
Moh Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN
Sunan Ampel Surabaya
Trainer “ Terapi
Sholat Bahagia”
Assalamualaikum, Wr. Wb
Secara
bahasa sholat bermakna doa, sedangkan secara istilah, sholat merupakan suatu
ibadah wajib yang terdiri dari ucapan dan perbuatan yang diawali dengan
takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam dengan rukun dan persyaratan
tertentu.
Menurut
hakekatnya, sholat ialah menghadapkan jiwa kepada Allah SWT, yang bisa
melahirkan rasa takut kepada Allah dan bisa membangkitkan kesadaran yang dalam
pada setiap jiwa terhadap kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.
Menurut
Ash Shiddieqy. Sholat ialah
menggambarkan rukhus sholat atau jiwa sholat, yakni berharap kepada Allah
dengan sepenuh hati dan jiwa raga, dengan segala kekhusyu’an dihadapan Allah
dan ikhlas yang disertai dengan hati yang selalu berdzikir, berdoa dan
memujiNya.
Dalam
mengerjakan sholat harus selalu berusaha menjaga kekhusu’anya. Secara bahasa,
khusyu’ berasal dari kata khasya’a yakhsya’u khusyu’an, yang berarti memusatkan
penglihatan pada bumi dan memejamkan mata atau meringankan suara ketika sholat.
Khusyu’
itu artinya lebih dekat dengan khudhu’ yakni tunduk dan takhasysyu’ yakni
membuat diri menjadi khusyu’. Khusyu ini bisa melalui suara, gerakan badan atau
penglihatan. Ketiganya itu menjadi tanda kekhhusyu’an bagi seseorang dalam
melaksanakan sholat.
Secara
istilah syara’, khusyu ialah keadaan jiwa yang tenang dan tawadhu’. Kemudian
khusyu’ dihati sangat berpengaruh dan akan tampak pada anggota tubuh lainya.
Menurut A. Syafi’I khusyu’ berarti menyengaja, ikhlas, tunduk lahir batin
dengan menyempurnakan keindahan bentuk ataupun sikap lahirnya (badan), serta
memenuhinya dengan kehadiran hati, kesadaran dan pemahaman segala ucapan maupun
sikap lahiriyah tersebut
Dalam
kajian ini Mohammad Ali Aziz (Guru
Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Sholat
Bahagia”) Mengatakan: “Secara lahiriah sholat berarti beberapa ucapan dan
perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, itu sholat,
adapun secara hakikinya ialah berhadapan hati (jiwa) kepada Allah, secara yang
mendatangkan takut kepadanya serta menumbuhkan didalam jiwanya rasa kebesaran,
kesempurnaan dan kesuasaanya atau mendahirkan hajat dan keperluan kita kepada
Allah yang kita sembah dengan perkataan dan pekerjaan atau dengan kedua –
duanya”.
Islam
adalah agama rahmatan lil alamin artinya islam merupakan agama yang membawa
rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta ini. Dalam islam kita
diperkenalkan adanya sebuah kepercayaan, kewajiban, larangan serta berbagai
pelajaran yang dapat kita tuangkan dalam kehidupan ini. Bayangkan jika manusia
memahami dan mengamalkan ajaran – ajaran islam, maka akan sungguh indah dan
damainya dunia ini.
Sholat
merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umat islam. Menunaikan
sholat adalah suatu bentuk keimanan yang ditunjukan seorang Muslim kepada
penciptanya. Meninggalkanya jelas merupakan kerugian besar, karena hal tersebut
merupakan rukun islam yang tak lain adalah dasar keimanan. Perintah
melaksanakan sholat secara langsung diperintahkan Allah SWT. Kepada Rasulullah
SAW saat perjalanan isra’ mi’raj. Hal tersebut juga sudah tertuang dalam kitab
suci Al Quran. Kita semua diperintahkan untuk mengerjakan sholat, namun bukan
hanya sekedar melaksanakan sholat akan tetapi Iqamu Ash-shalat (mendirikan shalat),
karena ayat – ayat perintah sholat rata-rata memerintahkan untuk Iqamu
Ash-Sholat. Seperti contoh ayat berikut ini.
وَاَ
قِيْمُواالصَّلٰوةَ وَاٰ تُواالزَّكٰوةَ وَا رْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ
“ Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan
rukuklah berserta orang – orang yang rukuk.”
(QS. Al-Baqarah:
43)
Penjelasan
diatas menjelaskan bahwa pentingnya sholat dalam sebuah kehidupan. Melaksanakan sholat saja
tidaklah cukup apabila kita tidak menerapkan ajaran yang telah diajarkan nabi.
Kita semua tahu, bahkan mungkin kita semua sering melakukanya secara tidak
sengaja. Saat kita melaksanakan ibadah sholat banyak hal - hal yang lewat begitu saja dalam pikiran
kita. Apa yang kita lupa terkadang muncul dalam ingatan kita saat kita
melakukan ibadah sholat, banyak hal – hal yang melintas lewat sehingga membuat
sholat kita merasa kurang khitmah dan menikmati komunikasi kita dengan sang khaliq. Oleh karena itu, perlu adanya
niat dalam diri kita untuk mengubah sebuha kebiasaan kecil yang sengaja maupun
tidak itu, agar kita dapat merasakan luar biasanya nikmat melakukan komunikasi
dengan Allah SWT. Salah satunya dengan melaksanakan Pendalaman Terapi Sholat, seperti yang diajarkan oleh Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag ( Guru
Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat
Bahagia” ).
Dalam
Terapi Shalat Bahagia beliau juga menekankan bahwa sholat adalah salah satu
cara dimana seseorang dapat mengingat segala nikmat yang telah Allah SWT berikan
kepada kita, begitu pula dalam Terapi Sholat Bahagia ini, yang mana dalam
sholat yang paling utama adalah tidak mengesampingkan syarat – syarat sah,
rukun – rukun shalat, syarat wajib sholat, sebab kualitas sholat juga sangat
dipengaruhi oleh hal – hal tersebut. Kemudian dalam sholat juga diutamakan
seseorang yang menjalankan harus dengan khusyu’ sekaligus tuma’ninah. Terapi
sholat ini juga dapat diartikan sebagai usaha seseorang hamba untuk mengingat
Allah SWT. Beberapa penelitian juga menunjukan bahwa jumlah orang yang kurang
bahagia tidak berkurang sekalipun kesejahteraan lahiriah meningkat. Ada saja
yang mengganggu mengganggu pikiran.
Kriteria-kriteria sebuah kebahagiaan dengan menggunakan shalat sebagai metode
mencapai kebahagiaan dengan T2Q ( Tawakal, Tuma’ninah, dan Qana’ah) dan hal itu
merupakan terapi mental yang ditekankan pada Shalat Bahagia.
Pada
umumnya peshalat yang khusyu’ dijamin hidup bahagia, sebab seseorang yang
menghadapi semua cuaca kehidupan dengan keimanan, kepasrahan dan penuh keridhoan
atas semua takdir ALLAH. Dengan pembiasaan shalat secara tuma’ninah: tenang,
sabar dan tidak tergesa-gesa, peshalat khusyu’ bisa menghadapi semua gelombang
kehidupan dengan tuma’ninah pula. Muslim yang benar adalah muslim penting,
karena ia hidup dengan qanaah, tidak tersiksa oleh deretan daftar keinginan.
Kebahagiaan bersifat subyektif. Jika peshalat khusyu’ misalnya terkena suatu
penyakit, atau orang tersebut ditakdirkan buta, secara obyektif ia menderita,
karena tidak bisa bekerja dan menikmati hidup.
اِنَّنِيْۤ
اَنَا اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّاۤ اَنَا فَا عْبُدْنِيْ ۙ وَاَ قِمِ
الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ
“Sungguh, Aku
ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah
sholat untuk mengingat aku (QS. At Thaha: 14)
Berikut
metode – metode Sholat Terapi Bahagia :
1.
Takbiratul ikhram (berdiri)
Memiliki kata kunci SUBHAN (Syukur,
Bimbingan, Ketahanan iman). Takbiratul ikhram merupakan awal dari aktifitas
ibadah. Pada posisi ini, perokaat membaca doa pembuka (iftitah), surat
al-Fatihah dan beberapa ayat al-Qur‟an. Setelah selesai dari pemujaan doa dan
pengesahan Allah, disyariatkan bagi pelaku shalat untuk memohon jaminan dari
Allah agar dikabulkan semua permintaan dan sembahan dengan membaca amin
sebagaistempel pengesahan sekaligus penutup
2.
Rukuk
Memiliki kata kunci TURUT (Tunduk dan
Menurut. Gerakan wajib berikutnya yaitu dengan membungkukkan badan dengan kedua
tangan di lutut, dan wajah diarahkan ke tempat sujud. Posisi rukuk ini akan
membengkokkan tulang belakang untuk menggerakkan, melembutkan otot-otot,
melemaskan tulang-tulang yang kejang dan kaku, dan mengendorkan ruas-ruas
tulang belakang, supaya tulang belakang kembali sesuai anatomi.
3.
I’tidal
Memiliki kata kunci HADIR (Hak pujian
dan Takdir). Posisi ini adalah dengan bangkit dari rukuk) dan makna
filosofinya, ada dua hal penting yang perlu dihayati dalam posisi ini, yaitu
Hak pujian dan Takdir. Kita tidak dibenarkan mengharap pujian manusia dalam
pekerjaan apapun. Hak pujian hanya milik Allah. Dengan demikian, menghapus
harapan pujian orang berarti menutup sumber kecemasan dan kekecewaan. Begitupun
dengan takdir, Tidak ada yang terjadi di dunia ini secara kebetulan. Semuanya
terjadi atas Rencana Besar. Dengan keyakinan itu, seorang muslim memiliki daya
tahan yang dahsyat menghadapi kegagalan. Ia juga bisa menahan diri dari amarah
kepad orang lain yang menyebabkan kegagalan itu, sebab ia percaya dengan yakin
bahwa semua yang terjadi sebagai kehendak Allah.
4.
Sujud
Memiliki kata kunci MASJID (Maaf, Sinar,
Jiwa dan raga). Sujud adalah posisi paling agung dalam shalat setelah rukuk.
Dalam sujud, orang tidak bisa menoleh kemanapn kecuali menghadap Allah. Rukuk
adalah simbol penghambaan, sedangkan sujud simbol kedekatan. Sujud merupakan
pembeda muslim dan setan, sebab setan selalu menolak melakukannya. Sujud juga
posisi terdekat antara manusia dan Allah.
5.
Duduk antara dua sujud
Memiliki kata kunci AKSI (Ampunan, Kasih, Sejahtera dan Iman).
kita duduk dengan otot-otot pangkal paha. Dalam sikap duduk ini, salah satu
saraf pangkal paha yang besar berada di atas kedua tumit kaki. Tumut dilapisi
oleh sebuah otot yang berfungsi sebagai bantal. Dengan demikian, tumit menekan
otot-otot pangkal paha serta saraf pangkal paha yang besar itu, sehingga saraf
pangkal paha itu terpijit. Pijitan tersebut dapat menghindarkan dari penyakit
saraf pengkal paha yang menyebabkan rasa sakit, nyeri, sehingga tidak dapat
berjalan.
6.
Tasyahud
Memiliki kata kunci SOSIAL (Solawat,
Persaksian dan Tawakkal). Posisi duduk ini disebut “tasyahud” karena di
dalamnya ada bacaan “syahadat”, sebuah ikrar keimanan, “Tiada Tuhan selain
Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah”. Hal tersebut menjelaskan bahwa kita
harus menerima apapun takdir Allah dengan ikhlas, ridla dan senang hati, serta
bertawakal kepada Allah.
Dengan metode-metode dan penerapan inilah shalat bahagia
itu di gunakan untuk mencapai sebuah kebahagiaan dengan tanpa mengurangi
nilai-nilai penting dan kesakralan sebuah ibadah sholat. Dari pembahasan di
atas menunjukan bahwasanya shalat adalah sebuah kewajiaban bagi semua umat
islam, pada dasarnya shalat juga sebagai sebuah prosesi ritual yang dilakukan
oleh orang yang beriman sebagai wujud penghambaannya terhada Allah SWT. Dalam
shalat, hal paling utama dan paling penting adalah tentang diterimanya shalat,
dan hal yang menentukan shalat seseorang itu diterima ialah menjalakan rukun,
syarat-syarat sah dan wajibnya shalat dengan benar sesuai syariatnya.
Dengan tata cara sholat seperti itu pastinya tidak hanya
doa saja yang harus sesuai tetapi juga harus diimbangi dengan gerakan sholat
yang tuma’ninah. Lakukan hal tersebut dengan catatan sholat munfarid(sendiri)
tidak disarankan untuk sholat berjamaah. Melakukan sholat seperti itu tidak
hanya membuat hati kita menjadi tenang tetapi juga membuat penyakit yang ada
ditubuh kita sembuh, penyakit ambean dan kanker payudara pun bisa sembuh jika
kita ikhlas mengerjakan sholat dengan cara Terapi Sholat Bahagia Tersebut
semoga bermanfaat.
Wassalamualaikum,
Wr. Wb.
No comments:
Post a Comment